Kabarborneoraya. com : Banjarmasin Heboh pembicaraan di kalangan atlit Kota Banjarmasin, bonus atlit yang dijanjikan lebih besar dari 4 tahun sebelumnya, ternyata justru jauh lebih rendah. Sebelumnya Rp 25 Juta untuk peraih emas, turun menjadi Rp 20 juta. Padahal sebelum bertanding diberikan motivasi, nanti atlit berprestasi akan mendapat bonus minimal sama dengan tuan rumah, dan yang pasti jumlahnya akan lebih besar dari 4 tahun sebelumnya. Nyatanya justru lebih rendah.
Bonus Rp 20 juta tersebut harus dipotong pajak, lalu seperti biasa akan dipotong pula di internal masing-masing Cabor, dan pada akhirnya atlit hanya dapat “sajampilit”, “kada bapala”, tidak sesuai dengan apa yang sudah diusahakan.
Perlu diketahui, perjuangan atlit untuk menjadi juara dan mengharumkan nama daerah, bukan sekedar saat bertanding tersebut. Para atlit harus berjuang berlatih menempa diri agar mampu menjadi yang terbaik. Latihan tersebut memerlukan biaya, waktu, tenaga, keseriusan, perhatian dan segalanya, termasuk tidak jarang memfasilitasi kebutuhan latihan berupa peralatan dan perlengkapan. Semua itu tidak murah. Kalau kemudian menjadi juara, itulah perjuangan panjang penuh perjuangan yang sudah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Bukan seketika langsung juara.
Yang diperjuangkan dengan segenap perhatian dan kemampuan tersebut tentu saja nama baik daerah. Daerah idealnya memfasilitasi sejak awal, sejak latihan bertahun-tahun, persiapan pertandingan dan setelah juara memberikan bonus sebagai penghargaan dan motivasi.
Bayangkan kalau perhatian tidak pernah diberikan, fasilitas tidak pernah diadakan, dan latihan yang begitu panjang tidak pernah ada sentuhan kebijakan. Lantas atlit tetap semangat berlatih dengan inisiatif dan upayanya sendiri. Daerah hanya tinggal memberi bonus kalau juara, lantas bonus itu pun tidak membanggakan, lalu apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam pemajuan olahraga? Apa usaha pemerintah yang nyata dalam soal peningkatkan prestasi generasi muda pada cabang olahraga?
Bonus bagi atlit adalah satu pelipur lara, dari perjuangan panjang yang sudah dilakukan. Itupun tidak setiap tahun. Porprov hanya 4 tahun sekali. Setelahnya atlit sekeras apapun berlatih, akan dibatasi usia. Mumpung masih usia potensial, maka saat mampu menjadi juara, bonus itulah yang dapat dijadikan modal bagi berbagai tujuan lainnya, termasuk untuk kuliah, bekerja, atau hal lain sebagai bekal mempersiapkan diri bila tidak lagi mampu menjadi atlit.
Berhasil menjadi juara saja kurang diperhatikan, apalagi yang tidak juara. Padahal yang belum mampu juara, juga mengorbankan segalanya dalam mempersiapkan diri. Hanya karena ada yang lebih unggul atau kurang beruntung, akhirnya gagal menjadi juara. Mestinya, para pejuang yang belum berhasil ini pun mendapat perhatian dan penghargaan, agar tidak putus asa dan terus mau berjuang.
Kalau bonus atlit “sapambari”, dengan alasan tidak ada anggaran dan efisiensi, saya berani nyatatakan ini kebijakan yang “payah”, mengecewakan, karena kurang menghargai upaya keras yang sudah dilakukan dengan segenap kemampuan dan jiwa raga. (nm)

0 Komentar