Kabarborneoraya.com : Banjarmasin
Persaingan lembaga keuangan saat ini tidak lagi hanya terjadi di kantor pelayanan atau ruang rapat. Pertarungan sesungguhnya berlangsung di layar ponsel, media sosial, dan berbagai platform digital yang setiap hari diakses jutaan masyarakat.
Menyadari perubahan besar tersebut, KSP Pusat Koperasi Kredit Kalimantan Selatan (Puskopdit Kalsel) mulai melakukan langkah transformasi dengan membekali pengurus dan manajemen koperasi kredit kemampuan digital marketing melalui pelatihan yang berlangsung di Hotel Roditha Banjarmasin, 18–20 Juni 2026.
Bagi Puskopdit Kalsel, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Lebih dari itu, digitalisasi dipandang sebagai strategi untuk memperluas keanggotaan, meningkatkan kepercayaan publik, dan memastikan koperasi tetap relevan di tengah perubahan perilaku masyarakat.
Ketua Pengurus Puskopdit Kalsel, *Rory Handriano, SE, MM*, mengatakan koperasi kredit tidak boleh lagi hanya mengandalkan pola komunikasi konvensional jika ingin terus berkembang.
"Kita harus mengakui bahwa masyarakat sekarang hidup di ruang digital. Mereka mencari informasi melalui media sosial, membangun relasi melalui platform digital, bahkan mengambil keputusan keuangan berdasarkan informasi yang mereka temukan secara online. Karena itu koperasi harus hadir di sana," ujar Rory.
Menurutnya, tantangan terbesar koperasi saat ini bukan semata-mata soal modal atau aset, melainkan bagaimana menarik generasi muda agar mengenal dan mempercayai koperasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi keluarga.
Saat ini jaringan koperasi kredit yang tergabung dalam Puskopdit Kalsel memiliki sekitar 10 ribu anggota yang tersebar di berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Angka tersebut dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar apabila koperasi mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
"Generasi muda adalah pasar masa depan koperasi. Mereka tidak lagi membaca brosur atau menunggu sosialisasi tatap muka. Mereka ada di media sosial. Karena itu koperasi harus mampu berbicara menggunakan bahasa yang mereka pahami," katanya.
Pelatihan tersebut menghadirkan praktisi marketing nasional *Paulus Ohio*, yang selama lebih dari satu dekade berkecimpung di bidang branding dan strategi pemasaran berbagai sektor industri.
Menurut Paulus, banyak koperasi sebenarnya memiliki fondasi yang kuat, mulai dari tata kelola yang sehat hingga manfaat nyata bagi anggota. Namun keunggulan tersebut sering kali tidak diketahui masyarakat karena kurang dikomunikasikan secara efektif.
"Masalah terbesar banyak koperasi bukan produknya, melainkan visibilitasnya. Mereka punya layanan yang bagus, tetapi tidak terlihat. Di era digital, jika tidak terlihat maka dianggap tidak ada," ujar Paulus.
Ia menilai media sosial kini telah menjadi etalase utama bagi setiap organisasi, termasuk koperasi kredit. Karena itu kemampuan membangun narasi, konten, dan komunikasi digital menjadi faktor penting dalam memenangkan kepercayaan masyarakat.
"Digital marketing bukan hanya soal membuat konten. Ini tentang membangun reputasi, membangun kepercayaan, dan membangun hubungan jangka panjang dengan anggota maupun calon anggota," katanya.
Paulus menambahkan bahwa koperasi memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak lembaga keuangan lainnya, yaitu kedekatan sosial dan semangat gotong royong. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa digital yang mudah dipahami generasi muda.
Menurutnya, transformasi digital yang berhasil selalu dimulai dari perubahan pola pikir.
"Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan keberhasilan adalah manusianya. Ketika pengurus dan manajemen memiliki mindset digital, maka koperasi akan lebih mudah beradaptasi dan berkembang," ujarnya.
Bagi Puskopdit Kalsel, pelatihan ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan koperasi kredit yang modern, adaptif, dan berdaya saing.
Di tengah berkembangnya ekonomi digital nasional, koperasi kredit tidak lagi cukup hanya menjadi tempat menabung dan meminjam uang. Koperasi dituntut menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mampu hadir di ruang digital, membangun literasi keuangan, serta menjangkau generasi baru yang akan menjadi penentu masa depan gerakan koperasi.
"Kami ingin koperasi kredit tidak hanya bertahan menghadapi perubahan, tetapi menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Masa depan koperasi ada di tangan mereka yang berani bertransformasi," pungkas Rory.
Transformasi digital mungkin bukan tujuan akhir. Namun bagi koperasi kredit di Kalimantan Selatan, digitalisasi telah menjadi jembatan menuju pertumbuhan anggota, penguatan aset, dan keberlanjutan gerakan ekonomi kerakyatan di masa depan..(kbr)


0 Komentar